Hukum Umroh Apabila Diwakilkan

Kejadian Tak Terduga Umroh Tak Jadi, Bolehkah Diwakilkan?

Hukum Umroh Diwakilkan—Takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sudah ditetapkan tidak akan bisa diganggu atau diubah lagi oleh manusia. Jodoh, maut atau kematian, dan rejeki, hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang dapat mengetahui hal itu. Ketiga hal itu terkadang datang dengan tiba-tiba dan terkadang pula diberikan pertandanya, hanya kepada orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perencanaan yang sudah direncanakan dengan matang, juga bisa saja tidak terjadi dengan berbagai alasan atau kejadian. Maka, itulah takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Entah takdir itu menghasilkan hal yang baik atau yang buruk, namun semua yang diberikan Allah Subhanahun Wa Ta’ala, pasti memiliki hikmah tersendiri bagi para hamba-Nya.

Seperti merencanakan menunaikan ibadah ke tanah suci sejak lama dengan menunaikan ibadah umroh karena waktunya tak harus menunggu lama, ketika semua bisa tercapai dari kemampuan dalam segi finansial, fisik, dan lain sebagainya. Semua telah dipersiapkan dengan matang dan tinggal sedikit lagi waktunya untuk berangkat, namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkehendak lain, misalnya tidak jadi umroh dikarenakan sakit sampai tidak bisa berdiri atau meninggal dunia, maka kita sebagai hamba-Nya tidak bisa melakukan apapun. Bolehkah atas kejadian tersebut umrohnya menjadi diwakilkan atau digantikan oleh kerabat atau anak atau orang yang telah diijinkan atau diwasiatkan oleh orang yang telah meninggal atau sakit? Lalu bagaimana Hukum Umroh Diwakilkan seperti demikian? Mari luangkan sedikit waktu untuk membaca artikel Khazzanah Tour Travel Umroh agar bisa sama-sama mengetahui mengenai Hukum Umroh Diwakilkan.

Prinsip  Hukum Umroh Diwakilkan

Menenai Hukum Umroh Diwakilkan dalam agama Islam banyak sekali perbedaan pendapat, terutama perbedaan pendapat antar mazhab-mazhab yang kita ketahui jumlahnya ada 4. Bagaimanakah perbedaan tersebut?

Umroh merupakan ibadah yang sama-sama dilakukan di tanah suci seperti ibadah haji. Namun umroh merupakan ibadah haji kecil, dan pada prinsipnya, ibadah umroh itu sama dengan ibadah haji yang boleh digantikan apabila diijinkan oleh orang yang tidak mampu menunaikan ibadah umroh dengan alasan orang tersebut telah meninggal atau dalam keadaan tua dan renta atau sakit yang tidak memungkinkan untuk melakukan thawaf, sa’I dan kegiatan lainnya yang terdapat dalam tata cara umroh sesuai sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam. Ikuti paket Umroh Ramadhan, waktu yang tepat bisa cium hajar Aswad sepuasnya!

Hukum Umroh Diwakilkan Dari Pendapat 4 Madzhab

  • Adapun menurut mazhab yang dipakai dalam Negara Indonesia yakni Mazhab Syafi’I mengenai Hukum Umroh Diwakilkan adalah boleh menggantikan pelaksanaan umroh untuk orang lain, apabila orang itu meninggal dunia atau tidak mampu secara badan untuk berpergian. Barangsiapa yang meninggal dunia sementara ia mempunya tanggungan umroh wajib, padahal ia mampu untuk mengerjakannya, namun belum sempat mengerjakannya ia keburu meninggal dunia, diwajibkan menggantikan umrohnya dengan biaya dari harta yang ditinggalkannya. Jika ada orang yang bukan kerabatnya yang mengerjakan atas namanya tanpa izin ahli warisnya, maka umrohnya sah. Hal ini disamakan seperti jika misalnya ia punya tanggungan hutang, lalu ada yang membayarkan atas namanya, maka itu sah meskipun tanpa izin orang yang punya utang.
  • Sedangkan untuk Madzhab Hanafi memiliki pendapat Hukum Umroh Diwakilkan, boleh menggantikan umroh orang lain jika orang tersebut memintanya. Sebab kebolehan menggantikan ini secara niyabah (perwakilan)-sementara niyabah hanya terjadi dengan permintaan atau perintah.
  • Menurut Madzhab Maliki, Hukum Umroh Diwakilkan adalah makruh hukumnya menggantikan umroh. Namun, jika hal itu dilakukan tetap sah.
  • Untuk madzhab yang terakhir adalah pendapat Hukum Umroh Diwakilkan dari Madzhab Hambali yakni, tidak boleh mewakili pelaksanaan umroh atas nama orang yang masih hidup kecuali seizinnya. Sedangkan jika seseorang sudah meninggal dunia, maka boleh dilakukan tanpa seizinnya.